Jelajah Batealit #2 (Air Terjun Sumenep)

Mei 25, 2016

Gerimis kembali mengguyur kawasan Air Terjun Dung Paso saat kami bertolak menuju Air Terjun Sumenep. Berjalan pelan melewati tanah gembur nan liat bak di ladang sawah saat musim tanam padi. Sekelompok anak muda yang beranjak meninggalkan Air Terjun Dung Paso terlihat menenteng alas kakinya agar tidak memperberat perjalanan. Kakipun sudah penuh dengan tanah hingga tak terlihat bentuk dan rupanya. Berharap segera berakhir penderitaan ini *usap air mata.

Tiga puluh menit sudah kami melewati tanah gembur dan liat, akhirnya sapailah di penghujng jalan. Lega rasanya ketika sudah keluar dari jalan setapak yang penuh dengan tanah gembur dan liat. Beberapa gerombolan muda-mudi terlihat sedang beristirahat sambil membahas tentang jalan yang baru selesai dilewati. Sesekali mereka tertawa, saling mengejek melihat kaki teman-teman mereka yang tertutupi tanah yang liat. Sementara mereka bergurau, kami melanjutkan perjalanan menuju Air Terun Sumenep dengan berjalan kaki. Cukup dekat kok lokasinya, jadi bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Eits, tapi jangan anggap remeh ya walaupun dekat. Hanya butuh waktu 30 menit untuk sampai di Air Terjun Sumenep, itupun kalau dari tempat parkir ya :) Jika ditempuh dari lokasi Air Terjun Dung Paso, kira-kira skitar 60 menit. Cukup dekat lah ya hehehe. Kaki masih terselimuti oleh tanah, kami membersihkannya menggunakan air kubangan bekas guyuran hujan. Hanya dengan air sisa hujan, kami bisa membersihkan kaki yang mulus ini.

Gerimis mulai reda, kekhawatiranpun sedikit mereda pula. Namun harus tetap waspada karena mendung masih mnutupi birunya cinta langit. Berharap hujan tak kembali mengguyur kawasan air terjun ini. Kami melewati jalan setapak yang cukup licin namun padat sehingga tidak membuat perjalanan menuju Air Terjun Sumenep terhambat. Naik turun melewati jalan setapak yang licin di dalam hutan macan mati hingga akhirnya sampai di sebuah persawahan dan lahan kosong yang sepertinya memang sengaja dibiarkan oleh pemiliknya. Suara guyuran air deras sudah terdengar jelas ditelinga, pertanda Air Terjun Sumenep sudah dekat. Sebenarnya, jika kita memperhatikan dengan seksama, Air Terjun Sumenep sudah terlihat dari atas jalan setapak.

Dimana ada tempat wisata, di situlah tempat para pengunjung untuk berfoto. Istirahat sejenak sambil melihat gaya para model dadakan yang berada di Air Terjun Sumenep ini. Sesekali bibir ini nyengir dan tertawa melihat segerombol pemuda yang berfoto dengan background Air Terjun  Sumnep. Mood mulai tidak enak saat melihat banyaknya sampah plastik yang berserakan. Saya membayangkan lokasi ini sebelum dikenal oleh banyak orang. Pastinya terlihat lebih asri dan bagus sejauh mata memandang. Yasudahlah, sepertinya tidak akan bisa seperti sebelum terkenal jika pengunjung tidak ada kesadaran diri untuk membawa sampahnya lagi dan membuangnya ke tempat sampah.

Air Terjun Sumenep terdiri dari tiga tingkat dengan ketinggian tebing yang berbeda-beda. Waktu itu, kami sampai di Air Terjun Sumenep sudah terlalu sore dan mendung cukup gelap, sehingga kami tidak bisa melanjutkan perjalanan menuju ke Air Terjun Sumenep tingkat pertama dan ke dua. Alirannya cukup deras dengan dinding tebing yang lebar membuat air terjun ini terlihat bagus. Bahkan berbeda jauh dengan Air Terjun Dung Paso yang dindingnya cukup sempit. Minusnya, di sini tidak ada kubangan air yang bisa dimanfaatkan pengunjung untuk nyemplung atau bermain air. Berbeda dengan Air Terjun Dung Paso yang memiliki kubangan atau kolam air yang cukup luas, sehingga bisa dimanfaatkan pengunjung untuk berenang dan bermain air. Entah kalau di tingkat pertama dan ke dua. Sebetulnya, saya sendiri sangat penasaran dengan lokasi air terjun tingkat pertama dan ke dua, namun waktu yang belum mengijinkan saya untuk melihatnya. Mungkin lain waktu saya bisa kembali ke sini untuk meikmati Air Terjun Sumenep tingkat pertama dan ke dua. Semoga.

Langit semakin gelap seakan memberi peringatan kepada kami bahwasannya akan turun hujan. Waktu sudah menunjukkan pukul 17.00 WIB. Lokasi Air Terjun Sumenep pun mulai sepi. Satu, dua orang mulai meninggalkan lokasi. Akhirnya kami memutuskan untuk kembali dengan harapan semoga para pengunjung tidak mengotori tempat ini dengan sampah.

You Might Also Like

21 komentar

  1. Aku kalau lihat air terjun kaya gini sekarang agak-agak trauma. Beberapa bulan lalu sempat terseret air di satu curug di Sentul. Airnya gak dalam padahal, cuma sebatas lutut. Tapi kekuatannya ... Hampir aja terlempar dari atas curug setinggi 10 meter.

    Btw, aku ketawa pas di bagian ini Sir: "Hanya dengan air sisa hujan, kami bisa membersihkan kaki yang mulus ini." ... (((MULUS))) hahahahaha

    BalasHapus
  2. Waduh, harus lebih hati-hati ya Mas.
    Hahahaha. Tapi memang mulus kan ya kakiku. wkwkwkwkw *cek kaki

    BalasHapus
  3. Bagus Rinanto25 Mei 2016 07.16

    kakinya berasa mulus ya bang,, hahaha

    BalasHapus
  4. Biasanya kalau di air terjun atau sungai saya ambil kuda-kuda dulu Mas sebelum benar-benar melangkah ke aliran sungai atau air terjun. Sehingga bisa mengira-ngira kuat atau tidaknya kakiku berada di aliran yang deras tersebut.

    BalasHapus
  5. Huwoh.. Mulus banget, nggak percaya? wkwkwkwkwk

    BalasHapus
  6. Hahaha waktu itu aku udah hanyut dan memang posisi awalnya gak berdiri sih Sir :-(

    BalasHapus
  7. Nah loh, pantesan langsung ditarik sama aliran airnya. hehehe

    BalasHapus
  8. Segarnya Mas, Kirain beneran di Sumenep, Madura, ternyata bukan :D

    BalasHapus
  9. Hahaha iya Rifqy, namanya saja yang mirip. Paling seger memang kalau main air di bawah guyuran air terjun ya. Jadi pengen ke sana lagi.

    BalasHapus
  10. Sumenep ini lumayan jauh yaaa, tapi boleh lah nanti di kunjungi kalo balik gresik
    Air tenjun nya kece

    BalasHapus
  11. Iya Om... Bawa asisten om, biar aman di dalam hutan menuju Sumenep....

    BalasHapus
  12. Seger ya kliatanya airnya, apalagi pemandangannya keliatannya rindang banget

    BalasHapus
  13. Pastinya Mbak. Lebih bagusan yang atas Mbak.

    BalasHapus
  14. duh kangen main ke curug lagi..arghhhh. karena sekarang musim hujan dan kadang lumayan deras jadi takut saja blusukan ke hutan takut terjadi apa-apa

    BalasHapus
  15. Ngajak temen banyak Hend biar seru.

    BalasHapus